Novel ini muncul begitu saja di beranda Tokopedia saya. Melihat ada novel horror terbaru dari MWV Mystic, saya cukup penasaran dengan judulnya yang cukup singkat, Surau. Begitu saya klik dan melihat lebih detail produk ini, saya berhenti dan tidak melanjutkan checkout karena buku ini masih masuk masa pre order dan harganya cukup bikin menelan ludah, seratus ribu lebih.
Meskipun ada diskon dari Tokopedia, namun tetap saja harganya masih di angka 90 ribuan mendekati seratus ribuan. Sepertinya saya masih belum merasa worth it dengan harga segitu untuk sebuah novel horror dan anggaran segitu kayaknya masih lebih mending kalau dipakai buat yang lainnya.
Sampai sekitar sebulan kemudian saya coba memantau harga novel Surau di marketplace dan akhirnya ketemu dengan seller yang menjual dengan diskon lumayan, harganya jadi delapan puluh ribuan belum ditambah dengan diskon dari Shopee. Ya memang sebenernya selisihnya paling sekitar belasan ribu dengan harga di awal saya nemu novel ini, tapi jiwa perhitungan saya susah buat didebat. Dan dengan harga delapan puluh ribuan ditambah THR yang udah cair saya memutuskan buat checkout novel ini.
Ini dia blurb-nya.
Sebuah rumah ibadah sejatinya menjadi lokasi dimana nama Tuhan digaungkan, perintah-Nya dilaksanakan, dan larangan-Nya dijauhi. Namun jika orang-orang yang melampaui batas itu masih berani melakukan hal buruk dan biadab di dalamnya, lantas sebenarnya Dzat mana lagi yang mereka takuti dan sembah di dalamnya?
Seperti biasa. Horror tak hanya ada di Jawa. Lewat tulisan-tulisan MWV membuat saya mengerti banyak hal di luar nalar yg juga terjadi di tanah Sumatera. Terutama dalam cerita SURAU, yg berhasil membuat saya seperti hadir dan menyaksikan terorr itu secara langsung. -Simpleman, Penulis KKN di Desa Penari.
Surau tidak hanya menampilkan kengerian atas sesuatu yang tidak kasat mata, tapi juga menyajikan kengerian yang dilakukan oleh manusia. Sebuah teror yang mematikan. -Mizam Fadilah Ananda, Film Director.
Dari cerita Surau ini kita bisa belajar dan sadar bahwa manusia terkadang bisa lebih menyeramkan nan kejam daripada setan serta kerap menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan. -Wakhid Nurrokhim, Penulis Kemah Terlarang.
Novel ini berlatar di Sumatra, bercerita tentang persahabatan dua remaja bernama Niko dan Marhan yang akhirnya lulus dari pondok pesantren. Marhan berasal dari tanah Jawa dan berasal dari panti asuhan, sementara Niko asli dari Sumatra. Marhan merupakan lulusan terbaik, seorang tahfidz dan dapat beasiswa buat meneruskan pendidikannya di Mesir. Sementara Niko, setelah lulus hanya ingin mengamalkan ilmu yang didapatnya dengan mengajar ngaji anak-anak di desa, yang ketika anak-anak bisa ngaji dan solat dari didikan Niko, maka Niko juga akan mendapatkan banyak pahala.
Selain meneruskan pendidikan ke Mesir, Marhan juga punya cita-cita untuk ngajak Nikah Salma, santriwati yang bisa dibilang paling cantik dibanding penghuni pondok lainnya. Maka di momen wisuda ini, Marhan nekat menghampiri ayah Salma untuk mengutarakan niatnya ngajak nikah Salma. Datuak Kayo, ayah dari Salma, ternyata menyambut niat ini dengan positif, namun Marhan diminta untuk menemui Datuak Kayo di rumahnya.
Singkatnya, karena Marhan bukan orang Sumatra asli, tentu saja Marhan mengajak Niko minta dianterin ke rumah Datuak Kayo. Di sana, Datuak Kayo memberikan tantangan pada Marhan untuk kembali menghidupkan surau yang baru setengah jadi di desa tersebut dan telah lama ditinggalkan warga, sudah cukup lama tidak ada warga yang mau melaksanakan sholat berjamaah di surau itu. Datuak Kayo ingin mengetes keseriusan Marhan dan berharap dengan ilmu dari pondoknya, Marhan bisa mengajak warga sekitar untuk kembali solat berjamaah di Surau.
Mengingat tidak mungkin sendirian Marhan melakukan ini, maka Marhan merayu Niko untuk terlibat dalam tantangan ini. Niko yang awalnya menolak, setelah diiming-imingi pahala yang didapat kalau ngajarin warga sekitar ngaji dan ibadah lalu ingat pahala yang didapatkan, akhirnya setuju juga.
Setelah mereka berdua membersihkan surau hingga layak ditinggali dan dijadikan tempat ibadah, hari-hari berikutnya mereka mulai mendapat gangguan aneh-aneh dari makhluk disitu, mulai dari pocong hingga teror di ruang keranda yang tiba-tiba terisi genangan air coklat. Sementara itu, meskipun sudah berusaha mengajak warga untuk sholat di Surau, tidak ada satu pun warga yang tertarik. Marhan dan Niko masih saja sholat berjamaah berdua saja, kadang-kadang bertiga dengan Datuak kayo.
Warga sekitar juga terlihat sekali berusaha menghindari bangunan surau ini. Bahkan mereka seolah tidak mau berurusan dengan Marhan dan Niko. Sementara itu, gangguan makhluk halus di surau ini semakin menjadi-jadi. Bahkan levelnya udah bisa sampai meniru salah satu di antara Marhan dan Niko.
Saking parahnya gangguan, Niko sempat ingin menyerah namun Marhan tetap bersikukuh karena dengan bertahan di surau ini sama saja dengan Marhan berhasil melaksanakan tantangan dari Datuak Kayo untuk menikah dengan Salma.
Persahabatan keduanya tentu saja tidak selalu berjalan mulus, akan ada konflik-konflik yang membuat keduanya renggang dan juga alasan warga menjauhi surau tersebut berusaha dipecahkan oleh Marhan dan Niko.
💀💀
Ini adalah novel keempat dari MWV Mystic setelah Mereka Ada, Mereka Ada 2, dan Jaga Mayit. Bisa dibilang novel Surau ini mencoba keluar dari zona nyaman novel horror pada umumnya yang seringnya berlatar belakang di tanah Jawa. Karena novel ini mengambil latar Sumatra, maka beberapa percakapan di dalamnya menggunakan bahasa Sumatra, namun sebagai pembaca kita masih bisa tetap memahaminya karena ada catatan kaki di bawah halaman. Sayangnya, entah karena keseringan pakai bahasa Sumatra atau karena capek juga bikin terjemahan, ada beberapa dialog yang tidak diberikan catatan kaki. Tapi ya, itu tidak terlalu mengganggu saya untuk memahami ceritanya.
Untuk penulisan di buku ini juga sudah minim typo jadi enak buat dibaca. Selain itu benang merah dari awal sampai akhir cerita tersambung dengan rapi sehingga ketika satu per satu misteri dipecahkan semuanya terasa logis. Jadi selama membaca buku ketika saya beberapa kali membatin, 'Kok kayak gini?' atau 'Ah, masa sih ini bisa begini?' semakin menuju halaman akhir pertanyaan-pertanyaan tadi terjawab dengan, 'Oohh...'
0 Komentar