Hari ini seharusnya saya bangun lebih pagi, sebelum pukul lima sudah mandi dan persiapan buat salat ied di alun-alun Kota Pemalang. Nyatanya, pukul 5.15 saya baru terbangun setelah mamatikan alarm yang sebelumnya saya tunda-tunda terus. Melihat waktu yang ternyata sudah lebih dari pukul lima, saya segera membangunkan istri lalu sholat subuh.
Setelah itu saya bergegas mandi dan bersiap-siap. Butuh usaha ekstra untuk membangunkan bocil yang tertidur cukup lelap pagi itu, meskipun diiming-imingi mau beli balon terbang karakter di alun-alun nanti, bocil masih susah buat membuka mata.
Pukul enam lebih akhirnya kami sudah siap dan segera menuju alun-alun Pemalang. Sebenernya tujuan saya berangkat pagi hari ini adalah agar bisa nyari parkiran lebih leluasa. Dan sesuai dugaan, begitu sampai sana, parkiran mobil udah penuh semua. Saya nggak bisa lurus melewati lampu lalu lintas dan mesti parkir belok kiri di sekitaran kantor pos.
Kami pun terpaksa berjalan lumayan untuk menuju lapangan alun-alun. Dari semalam saya sudah berencana buat mencari tempat yang lebih terbuka jadi bisa lihat pihak Masjid Agung menerbangkan puluhan balon ke udara seperti edisi sholat ied di tahun-tahun sebelumnya.
Pagi itu rasanya ngos-ngosan juga karena bocil minta digendong, sebagai ayah yang jarang sekali olahraga, jalan kaki sambil gendong bocil yang udah lima tahun ini cukup bikin lengan gemetar juga.
Begitu sampai di swalayan dan siap-siap mau nyebrang ke alun-alun Pemalang, dari kejauhan saya melihat kilatan putih diiringi percikan api, suara teriakan jamaah sholat ied bersahut-sahutan pagi itu. Tiang listrik yang ada di pinggir alun-alun roboh ke jalanan, diikuti dengan pohon besar yang juga roboh ke arah jalanan.
Suasana mendadak penuh kepanikan, saya langsung penasaran dan bergegas mengajak istri untuk maju melihat keadaan lebih dekat. Tangan yang udah pegel gendong bocil jadi nggak kerasa lagi, saya berjalan tergesa-gesa sambil berusaha menerobos kerumunan jamaah lain yang juga pada penasaran.
Semakin dekat, suara teriakan panik dan cemas semakin kencang terdengar, saya melihat seorang nenek yang tangannya bersimbah darah setelah memegang kepalanya yang berdarah. Beberapa orang sibuk memapah lainnya yang terluka, kebanyakan ada di kepala.
Orang-orang panik berlari kesana kemari. Ada juga yang menangis histeris, mungkin karena shock, karena menjadi korban atau karena keluarganya yang menjadi korban. Saya sudah tidak bisa membedakan lagi, kaki rasanya semakin lemas melihat semua ini terjadi di depan mata. Bocil merengek minta pulang, mungkin takut melihat semua keriuhan ini.
Untungnya, tidak lama kemudian sirene ambulan terdengar semakin nyaring dan langsung sampai di TKP. Orang-orang saling bahu membahu membopong korban yang tidak sadarkan diri menuju ambulan. Beberapa orang berteriak panik meminta orang-orang yang masih memadati jalan untuk minggir agar akses ambulans lebih mudah. Kemudian, ambulan lainnya datang menyusul, untungnya jarak dari alun-alun ke rumah sakit hanya sekitar lima ratus meter.
Saya tidak tahu ada berapa korban saat itu, istri juga terlihat cemas. Saya pun mengajak istri dengan menggendong bocil untuk berjalan menjauh, mundur dari TKP. Saya mencari tempat yang aman untuk menggelar sajadah, tentu saja dengan menjauhi pohon-pohon besar yang ada di alun-alun. Akhirnya, saya memilih menggelar sajadah di tengah jalan setelah memastikan tidak ada pohon besar di samping kanan kirinya. Bocil yang tadinya minta pulang, dibujuk agar mau bertahan dengan diiming-imingi balon terbang karakter.
Pagi yang tadinya tenang, benar-benar tidak ada angin bahkan daun bergerak pun tidak, tiba-tiba... pohon besar jatuh begitu saja. Setelah sholat ied selesai, saya baru tahu, bahkan pohon yang rubuh itu hanyalah seperempat, tidak tumbang sepohon-pohonnya.
Pagi itu, begitu sampai rumah kami sekeluarga rasanya masih shock sekali... dalam hati saya bersyukur masih diberi keselamatan. Saya nggak tahu.. kalau hari itu saya benar-benar bangun lebih pagi, lalu sampai di alun-alun lebih pagi, posisi saya saat itu berjalan sambil menggendong bocil mungkin saja bisa lebih dekat atau tepat di tempat kejadian.
0 Komentar